Rinjani, Rindu dan Kematian

Rinjani Trihapsari namanya.
Gadis belia perawakan tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Memiliki mata belok bersinar dengan sorot yang tajam. Matanya selalu antusias memperhatikan setiap ekspresi orang orang yg ia ajak bicara. Bibir kecilnya tampak manis dengan polesan lipstik berwarna nude kesukaannya. Alis yang tidak terlalu tebal membuat ekspresinya selalu enak dilihat. Rinjani anak yg supel dan rendah hati.

Betapapun lelah tubuhnya, ia selalu tidur larut malam.
Biasanya setelah membersihkan sisa makeup dan gosok gigi, rinjani menghabiskan malam dengan membaca buku buku karangan Sibel Eraslan. Penulis asal Turki yang selalu bisa membuat kalut perasaannya.

Tapi kali ini tidak. Malam ini ia duduk bersandar ditempat tidur. Memandangi foto foto responden yang ia temui seharian ini. Matanya berhenti pada foto seorang laki laki berusia separuh abad yang ia jumpai hari ini. Tampak kerut disekitar mata dan bibirnya yg tersenyum. Raut wajahnya teduh dengan air muka yg bening. Ahh sepertinya foto ini sempat membuat kalut perasaannya, seperti halnya buku buku karya Sibel Eraslan miliknya.

Rinjani beralih mengintip status whatsapp teman temannya. Hampir semua orang sibuk memberi ucapan hari ayah. Meng upload foto bersama ayah, membuat tulisan tentang ayah, berjalan jalan bersama ayah, bahkan hampir semua postingan bertema ayah.

Bapak.
Begitu ia menyebutnya.
Untuk mendeskripsikannya, ingatannya terhempas jauh ke tahun 2003. Kala itu Rinjani berumur lima tahun.

Entah masalah apa yang dihadapi rumah tangga ibu dan bapaknya, membuat Rinjani menjadi anak kecil yang hidup jauh dari belaian tangan bapak.
Rinjani dan bapak menjalani hubungan ayah dan anak jarak jauh. Bapak berada di Jogja sedangkan Rinjani dan ibu berada di desa sejuk di Magelang.

Diusianya lima tahun itu, Rinjani dipaksa dapat menyesuaikan diri dilingkungan sekolah dasar. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Rinjani juga harus merasakan hubungan jarak jauh antara ibu dan anak. Karena ibunya tidak lama kemudian pergi keluar provinsi bertahun tahun untuk bekerja.

Jadilah rinjani menjalani hari harinya selama sekolah dasar bersama mbah.

Setiap libur semester, bapak menjemputnya mengajak Rinjani ke Jogja. Dalam satu tahun, Rinjani hanya bertemu bapak selama dua minggu saja.

Selama itu, bapak selalu menyisihkan waktunya untuk mengajak Rinjani jalan jalan. Bercerita banyak hal, makan bakso kesukaan mereka berdua, dan mengajari Rinjani banyak hal. Pernah Rinjani diajari membongkar motor, mengganti busi, mengencangkan rantai, membuka body motor. Bapak juga menjelaskan sistem listrik paralel, mengenakan nama nama alat bengkel dan listrik.

Dimata Rinjani, bapak cerdas dalam segala hal. Bapak adalah seorang laki laki multitalenta. Bapak juga sangat teliti dan jeli. Pernah ia ditegur karena salah menggunakan kata “kita” dan “kami”. Bapak selalu mengoreksi dan menjelaskan.

Karena hal itu membuat Rinjani seorang anak perempuan yg memiliki kedekatan emosional lebih ke bapak. Sampai ia beranjak remaja, bapak dan Rinjani masih dekat.

Rinjani dan bapak sama sama memiliki watak yang keras (ngeyel), mereka tidak jarang beradu argumen. Menginjak usia belasan, Rinjani sering merasa kesal dengan bapak.

Waktu terus berlanjut..
Usia dan ego Rinjani semakin bertambah. Rinjani dengan kesombongannya merasa sok pintar dalam segala hal. Termasuk tentang perjuangan dan kasih sayang seorang bapak.

Memasuki sekolah menengah atas sampai kuliah, Rinjani menjadi putri yg tak lagi selalu ada didekat bapak. Pernah bapak sedang sakit, memintanya tetap dirumah. Tapi ia tetap pergi mengikuti ego.

Sekarang Rinjani menyadari..
Saat saat itulah bapak sangat membutuhkannya. Membutuhkan waktunya untuk sekedar duduk memijit kakinya yg lelah, memijit punggungnya yg nyeri.

Rinjani belajar banyak hal dari bapak. Tidak hanya perkara bongkar pasang mesin kendaraan, tetapi juga perkara rumah tangga seperti menyapu, mencuci dan memasak.

Bapak pernah mempersilahkan orang yg memiliki gangguan jiwa untuk beristirahat dirumah mereka. Sepanjang hari orang itu berteriak teriak didalam rumah. “Kasian ya dek, dia juga manusia kaya kita. Ntah dimana keluarganya tapi kita gak boleh jahat dan tega liat orang seperti itu terlantar”. Bapak dan ibunya memasak, memberi minum, bahkan memberikan pakaian layak pakai untuk orang tersebut. Kejadian itu mengajari Rinjani tentang kasih sayang sesama manusia tanpa memandang latar belakang dan keadaan.

Cara bapak mencurahkan kasih sayang kepada anak anaknya berbeda.

Setelah bapak kembali kepada Yang Hakiki pada 1 April 2015 lalu, Rinjani sangat menyadari bahwa kasih sayang bapak sangat besar untuk ia dan kakak kakaknya.

Diwaktu yang sangat lama, dan hujan dengan rasa yang sama, Rinjani termenung. Perasaannya semakin campur aduk. Seolah rindu semakin menciptakan rasa sakit yg indah. Betapa tidak? Jarak dia dan bapak berupa kematian. Jauh tapi sangat dekat.

Bersamaan dengan ribuan rintik hujan dan malaikat yg menyertai, sebuah doa sekaligus ucapan kerinduan mengalir indah dari bibirnya. Doa untuk memeluk bapak dari jauh. Sedikit berbisik, tapi jelas.

~~selamat hari ayah~~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s