Antara Alim dan Bejad

“Lo tau? Orang yg dari luar terlihat sangat baik, sangat alim, sangat sempurna. Bisa jadi dia org yg sangat berbahaya dan sakit!!”

Saya bingung dengan statement ini. Tapi, temen saya yg ahli dalam obrolan 18++ ini menjelaskan dengan penjelasan yg bikin saya melongohh.

Berdasarkan pengalaman nyata, bukan hasil hayalan atau korban drama korea. Jadi si teman saya ini sering banget jadi konsultan rumah tangga. Salah satu clientnya bercerita tentang lika liku rumah tangganya yg diawali dengan ta’aruf.

Ini kisah si Tia (nama disamarkan). Tia adalah korban broken home, dimana rumah tangga ayah ibunya penuh dengan kekerasan, ujaran kebencian, sampai isu hoaks. Ehh… Ya pokoknya begitulah kira kira. Untungnya si Tia ini anak yg punya rasa tanggung jawab besar. Sebagai anak sulung ia harus memastikan sang adik tercinta menikah dan mendapat orang yg bertanggung jawab dan bisa membimbing kejalan yg benar serta yg paling penting bisa memberikan kasih sayang. Akhirnya si adik menikah. Perasaan Tia lega sekali setelah adiknya nikah, berasa seperti mahasiswa semester 13 yg akhirnya wisuda.

Tia masih muda, tapi sudah memasuki usia- usia perempuan rentan minta dinikahi.

Setelah tanggung jawab menjaga adek sudah diserahkan kepada adik ipar, Tia mulai gegana ~gelisah galau merana~. Muncul keinginan nyeriusin dan diseriusin, dengan harapan ada yg menjaga dirinya.

Setelah mantab ingin menikah, Tia memilih jalan ta’aruf. Ekspektasi Tia semua laki-laki yg melakukan ta’aruf adalah laki laki yg memiliki pemahaman agama dan akhlak yg baik. Mindset Tia tentang laki – laki yg melakukan ta’aruf itu seperti laki- laki idaman para ukhti yg selalu memberikan tatapan kasih putih dan menyebarkan cahaya ilahi.

Mulailah Tia mencari si pujaan hati dengan jalan ta’aruf. Proses ta’aruf ini melibatkan seorang murobbi, orang yg menjadi perantara antara pihak perempuan dan pihak laki-laki. Masing masing calon menyerahkan proposal yg berisi biodata diri secara rinci kepada murobbi. Oleh murobbi, data si perempuan diserahkan kepada si laki- laki, begitupun sebaliknya data si laki-laki diserahkan kepada si perempuan. Naah kalau masing masing merasa cocok dengan biodata calon, maka langkah selanjutnya diadakan pertemuan. Pertemuannya didampingi murobbi dan masing masing pihak membawa saudara atau teman semahram.

Dalam konsep ta’aruf, laki laki dan perempuan boleh bertemu dengan syarat didampingi orang yg semahram. Mencari tau informasi masing masing calon bisa dilakukan dengan bertanya kepada murobbi atau orang orang terdekat calon. Baik itu teman dekat, saudara, tetangga, guru, pak rt, bahkan mantan gebetan si calon.

Semua proses ta’aruf sudah dilalui Tia. Akhirnya diusia 23 tahun ia menikah dan membangun bahtera rumah tangga dengan laki laki yg terpaut usia 17tahun lebih tua darinya.

Setelah Tia diboyong kerumah suami, dimulailah drama rumah tangga mereka. Semua ekspektasi Tia tentang laki laki ta’aruf sirna seketika tanpa noda. Ternyata suami yg diharap harap dapat melindungi dan memberikan kasih putih justru menambah luka dibatinnya. Emosi yg sering meledak ledak, sifat manja, suka membanting peralatan rumah tangga saat marah, bahkan cara menggauli istri yg kasar dan memaksa membuat Tia merasa sangat sangat muak. Dia merasa seperti dipaksa memakan telur mentah yg busuk, setelah itu didorong kedalam lumpur likuifaksi. Intinya Tia sudah jijik sama mas. Trauma yg dialami dari orang tuanya justru semakin bertambah. Setiap suaminya marah dan membanting barang, tubuh Tia menggigil hebat, jantungnya berdegub kencang, tanpa sadar Tia meringkuk memegangi kepalanya yg terasa seperti ditusuk tusuk jarum.

Merasa kondisi rumah tangganya sudah sangat sakit, dan tidak bisa disembuhkan dengan cara apapun Tia memilih menyudahi. Pernikahan Tia hanya bertahan 1,5 bulan. Pernah ada yg terbayang pernikahan sesingkat itu? Walaupun singkat, tapi efek trauma yg dialami Tia melebihi efek sianida yg dicampurkan kekopi untuk mantan anda~

Dari sini, Tia sadar. Dia melupakan satu hal. Sebelum memutuskan menikah, dia lupa menggunakan akal sehatnya.

“logikanya gini ya ias. Cowo yg kemasannya alim, obrolan sehari hari berbau agama sampe umur 40 tahun belum nikah. Itu pertanda ada sesuatu yg gak beres dari dia!! “

Laki laki yg terlihat sangat perfect pasti ada keburukan yg terpendam didalamnya. Bahkan bisa jadi keburukannya itu hal hal yg diluar nalar kita. Ntah karena Tia terlalu gegabah dalam memilih pasangan, atau proses ta’aruf yg tidak berhasil~

Intinya kita benar benar harus teliti dalam memilih pasangan hidup. Kalau dipikir pikir menimbang bibit, bebet dan bobot merupakan landasan yg sangat penting. Belajar dari kasus Tia diatas, bungkus luar dan niat serius untuk menikah saja tidak cukup. Kita perlu menelusuri profil calon pasangan dengan jeli. Tidak hanya pekerjaannya, namun emosional dan juga pola pikirnya. Selain itu juga diperlukan komunikasi yg intensif agar kita dapat menilai bagaimana kepribadiannya. Bahkan terbuka masalah seksual dengan jujur juga diperlukan, seperti orientasi dan tipe tipe seksual. Untuk hal seperti ini hilangkan kata kata tabu. Justru memasuki usia produktif, pengetahuan tentang seksualitas diperlukan. Bagaimana berhubungan yg sehat, serta cara cara aman dalam seks.

Semenjak kejadian tersebut, Tia menjadi lebih hati hati dalam memilih pasangan. Mencoba enjoy dengan hidupnya, memulihkan trauma dihati dan pikirannya.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s